Tampilkan postingan dengan label iWebTool. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iWebTool. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Oktober 2015

Perbedaan mendasar Ipv4 dan Ipv6

Halo viewers, kali ini kita akan membahas perbedaan mendasar Ipv4 dan Ipv6 .

Bagi Anda yang mempelajari Internet dan Komunikasi atauJaringan Komputer, pasti sudah tidak asing dengan yang namanya IP Address. IP Address adalah suatu penomoran pada sebuah komputer sebagai identitas. Kalau di sederhanakan, seperi sebuah nama alamat rumah. Jadi tiap komputer memiliki alamat penomorannya masing – masing. Satu dengan yang lainnya tidak akan sama atau unik.
IP Address yang sering digunakan ini menggunakan basis TCP/IP karena lebih sederhana, dan lebih mudah untuk di mengerti. Sedangkan di OSI Layer sendiri memiliki IP Address sendiri, yang tentu saja berbeda dengan TCP/IP. Tetapi di dunia ini yang lebih sering dikenal dan digunakan IP Address TCP/IP (Baca: Sejarah dan Perkembangan Internet).
IP Address sendiri dibagi menjadi 2, yaitu IP Address Private dan IP Address Public. IP Address Private biasanya didaptkan oleh pengguna user rumahan atau sekala kecil. IP Address Private ini didapatkan setelah melakukan Subnetting. IP Address Public biasanya dimiliki dalam skala besar, seperti Hosting, ISP, Data center, dan perusahaan Web.
Tabel IPv4 dengan IPv6
Saat ini yang digunakan di dunia adalah IPv4 (IP Address Versi 4), mulai digunakan sejak tahun 1981. Tetapi sejak sekitar tahun 1990 sudah disimulasikan bahwa IPv4 akan mencapai titik jenuh atau IP Address di IPv4 akan habis. Dan sejak pada tahun 1996, IPv6 di kembangkan sebagai pengganti IPv4. IPv4 menggunakan 32 bit, jumlah Address yang dimiliki oleh IPv4 sebesar = 232 = ±4 milyar host. Itu artinya alamat di IPv4 akan habis pada saat jumlah manusia sudah mencapai 4 milyar lebih. Bayangkan saja jumlah penduduk India, China, Indonesia, Amerika Serikat dan Uni Eropa kalau dijumlahkan mungkin sudah mencapai angka 3 milyar lebih. Belum dijumlahkan dengan penduduk lain. Pasti angkanya akan mendekati 4 milyar jiwa.

Guna mengatasi masalah tersebut, digunakanlah IPv6. Karena IPv6 berjumlah 128 bit, 2128 atau lebih dari 4 milyar sudah pasti tidak ada kekhawatiran mengenai habisnya IP address. Karena IPv6 memiliki jumlah alamat yang cukup banyak sebesar 340, 282, 366, 920, 938, 463, 463, 374, 607, 431, 768, 211, 456.

Perbedaan IPv4 dengan IPv6:

Kelas Pengalamatan
Di dalam IPv4 dikenal dengan kelas pengalamatan, yang terdiri dari 5 kelas yaitu Kelas A, Kelas B, Kelas C, Kelas D dan kelas E. Biasanya yang dipakai oleh umum ada di kelas A, B, dan C, sedangkan Kelas D untuk multicast dan Kelas E untuk penelitian. Namun kadang ada yang menyebut Kelas D dan E itu di satukan.
Sedang di dalam IPv6, tidak dikenal penamaan kelas-kelas tersebut. Tetapi di dalam IPv6 dikenal jenis pengalamatan, yaitu Pengalamatan Unicast, Pengalamatan Multicast, dan pengalamatan Anycast. Alamat Unicast dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu Alamat Link Local, Alamat Site Local, dan Alamat Global.
Routing
Di IPv4, memiliki jalur yang lebih lambat dalam melakukan routing, hal ini dikarenakan adanya pemeriksaan header MTU di setiap routing dan switching. Sedangkan di IPv6, proses routing menjadi lebih sederhana. Dengan begini proses routing di IPv6 menjadi lebih sederhana dan cepat.
Mobile IP
Dukungan IPv4 terhadap mobile, sangat kurang. Karena IPv4 tidak diperuntukkan untuk sebuah mobile. Karena itu sering terjadi roaming. Sedangkan pada IPv6 mendukung sistem mobile di dalam desain IP. Jadi tidak salah IPv6 disebut juga sebagai Mobile IP.
Keamanan
Untuk menjaga keamanan IPv4 mengggunakan IPsec, sebagai fitur keamanannya. Tetapi sayangnya fitur ini hanya sebagai fitur tambahan. Sedangkan di IPv6, IPsec secara default telah digunakan. Jadi setiap proses akan melewati IPsec terlebih dahulu. [enj]

Kamis, 24 September 2015

PingPlotter Utility !

Hallo guys, apa kabarnya? kali ini saya mau share tentang Ping Plotter. Simak yuks
Walau kita bisa menggunakan PING (cmd) dan tracer, serta The Dude untuk memantau stabilnya koneksi dan mengetahui apabila ada masalah tapi masih susah memahaminya dan tidak ada riwayat untuk dibandingkan. Jadi saya perlu menggunakan tool lain yang lebih mudah dipahami secara visual dan teringat jaman kuliah dulu menggunakan Ping Plotter.
Menggunakan PingPlotter Pro trial 30 hari, tapi yang Free sudah cukup kok. Saya sama sekali tidak menggunakan fitur berbayarnya, iseng saja mencoba. :P

Menggunakan PingPlotter Pro trial 30 hari, tapi yang Free sudah cukup kok. Saya sama sekali tidak menggunakan fitur berbayarnya, iseng saja mencoba. :P

Ya, dengan PingPlotter kita tinggal mengisikan alamat IP atau website dan menjalankan cek koneksi internet. Nanti akan muncul daftar IP address dan nama hostnya kalau terdeteksi per tahap sampai ke tujuannya, ini yang disebut hop (lompatan). Yang paling penting adalah nilai responnya dalam satus ms (milidetik). Percuma saja ada koneksi kalau nilai pingnya bisa 1000ms, dijamin putus atau tidak stabil kalau main game online. 
Kalau anda kesulitan memahami error apa yang terjadi dan pada tahap mana maka langsung saja perhatikan grafik dibawahnya, kalau ada garis merah berarti tidak ada koneksi yang bisa dilakukan dari komputer anda. Kecepatan respon rata – rata bisa dilihat dari garis hitamnya, yang dari sini saya akhirnya tahu kalau sejak berubah menjadi myrepublic turun menjadi 300an ms dari 30an ms. :(
Oh ya, misal koneksi internet anda mati maka dari PingPlotter ini akan muncul informasi (warna merah dalam urutan hopnya) jadi nanti anda tahu masalahnya apakah dari komputer anda, modemnya, DNS server, jaringan ISP anda atau yang lainnya. Jadi akan sangat membantu saat kita melaporkan ke customer service karena sudah tahu dan siap memberikan data – datanya.
Dijamin seru deh, untuk pengecekan masalah ping menggunakan applikasi yang satu ini.
Thanks 
God Bless you :)
Sumber : http://utekno.com/pingplotter-pantau-koneksi-lacak-masalah-11617

The Dude memantau dan memonitor Jaringan!

Hallo viewers, apa kabarnya nih? kali ini saya mau share nih tentang The Dude. Simak yuks..


 Memantau dan memonitor jaringan mikrotik dan perangkat lainnya yang saling terhubung dapat dilakukan dengan mudah menggunakan aplikasi yang bernama The Dude. The Dude adalah sebuah aplikasi buatan Mikrotik yang berfungsi untuk memonitor dan memantau network dengan simple dan mudah. 

The Dude dapat melakukan scanning otomatis pada semua perangkat yang terhubung pada subnet jaringan tertentu. Hasil scanning nya berupa gambar peta konfigurasi jaringan yang muncul secara otomatis. Peta konfigurasi jaringan ini akan menggambarkan kondisi jaringan apakah sedang up/down. 

Selain itu the dude juga dapat menampilkan transfer rate antar perangkat di jaringan, jadi kita dapat memantau traffic yang berjalan di jaringan kita secara realtime dengan mudah. Yang lebih istimewa lagi, the dude bisa digunakan pada perangkat selain Mikrotik. 

The Dude dapat mengidentifikasi secara otomatis jenis dari perangkat yang ada di jaringan dengan menscan service yang digunakan oleh perangkat tertentu. Misalnya, the dude menscan perangkaat dengan open port 80, ia akan mengidentifikasikan perangkat itu sebagai Web Server.

Oke, sudah cukup penjelasannya. Sekarang kita coba memantau dan memonitoring menggunakan The Dude. Langkah-langkah nya adalah sebagai berikut


2. Install aplikasi The Dude.

3. Buka aplikasinya, akan muncul tampilan The Dude seperti gambar berikut :


Berikut adalah contoh peta jaringan dan data di the dude :

Map.png

4. Untuk mulai menggunakannya ada dua cara :
- Memasukkan data perangkat secara manual
- Menscan semua perangkat di jaringan tertentu, data & peta jaringan perangkat akan muncul secara otomatis (opsi ini yang akan kita gunakan)

5. Klik menu Discover --> Masukkan alamat subnet jaringan yang ingin di scan. misalnya 10.10.10.0/24 --> klik Discover.

6. Semua perangkat yang dalam kondisi menyala pada subnet tersebut akan ditemukaan oleh The Dude dan secara otomatis akan terbentuk peta jaringan dari semua perangkat yang ditemukan tersebut, seperti gambar berikut ini. (Maaf sedikit sensor :D)

7. Dari gambar tersebut dapat diketahui kondisi masing-masing perangkat, dapat juga diketahui transfer rate antar perangkat (router).

8. Untuk melihat data secara detil perangkat hasil scanning, klik dua kali di icon perangkat. Kita dapat merubah data perangkat, seperti merubah nama, IP address, username & password, dll.



9. Status peralatan apakah jaringan nya up, down, atau ada service yang timed out dapat dilihat seperti gambar berikut :

Keterangan Warna :
Warna hijau = Jaringan dan peralatan ok (up)
Warna merah = Ada gangguan jaringan atau peralatan (down)
Warna orange = Ada service yang timed out, atau dalam interval tertentu terjadi sesekali timed out.

10. Selain itu pada tiap peralatan juga terdapat tools yang bisa kita gunakan untuk menganalisa status nya, seperti gambar berikut ini :


11. Selain dapat menscan perangkat secara otomatis, kita juga dapat menambahkan perangkat ke peta jaringan secara manual. Klik tombol + Device.


12. Masukkan IP Address perangkat, Masukkan Username & Password (jika ada) --> Next


13. Klik Discovery. The Dude akan menscan service yang berjalan pada device tersebut secara otomatis --> Finish


14. Kita juga bisa menghubungkan perangkat baru ini dengan menambahkan link. Klik tombol + Link.


15. Drag icon antar perangkat yang mau dihubungkan. Pilih Mastering type : Simple. Hasilnya akan seperti ini :


16. Untuk dapat menampilkan traffic (Tx Rx) antar kedua perangkat, pada link Anda bisa memilih Mastering Type : snmp atau routeros. Namun tidak semua perangkat mendukung fitur ini. Jika kedua perangkat adalah router Mikrotik, maka username dan password pada data perangkat harus diisi dan pilih mode routeros pada data dan link nya.

Oke sekian pengetahuan apa sih The Dude itu, dan kurang lebih seperti ini ketika saya menge-test untuk memonitoring :D

Terima kasih
God Bless you :D

Sumber : http://mikrotikindo.blogspot.co.id/2014/11/cara-memonitor-jaringan-mikrotik-menggunakan-             thedude.html
            : http://www.mikrotik.com/thedude

Cisco Packet Tracer itu apa sih?

hallo viewers, kali ini saya mau share tentang Cisco Packet Tracer. Bagi kalian yang sudah atu belum tau, yuks kita simak.

Packet Tracer adalah simulator alat-alat jaringan Cisco yang sering digunakan sebagai media pembelajaran dan pelatihan, dan juga dalam bidang penelitian simulasi jaringan pada komputer. Program ini dibuat oleh Cisco System dan disediakan gratis untuk fakultas, siswa dan mahasiswa sampai alumni. Tujuan utama Packet Tracer adalah untuk menyediakan alat bagi siswa dan pengajar agar dapat memahami prinsip jaringan komputer dan juga membangun skill di bidang alat-alat jaringan Cisco.

Target Packet Tracer yaitu menyediakan simulasi jaringan yang real, namun terdapat beberapa batasan berupa penghilangan beberapa perintah yang digunakan pada alat aslinya yaitu pengurangan command pada Cisco IOS. Dan juga Packet Tracer tidak bisa digunakan untuk memodelkan jaringan produktif/aktif.

nih hasil kerja keras saya selama 1 minggu ketika mempelajari cisco packet tracer itu sendiri by web :D 


Puji Tuhan, kalo sekarang saya sudah menguasai sebagan besar dalam simulasi jaringan menggunakan cisco packet tracer ini. 

bagi kalian yang mau coba mempelajari tentang networking, coba dulu deh di simulasi ini, dijamin nyaman :D


Nah open aja linknya, nanti ada petunjuk lainnya untuk men-download serta men-instalnya. 

Sekian artikel dari saya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Thanks
God Bless you.

Kamis, 13 Agustus 2015

Lemot ga sih Blog kita ?

Halo guys, kali ini artikel saya akan membahas tentang iWebtool.

Sudah tidak asing lagi bagi para blogger mania jika anda semua pasti pernah mengunjungi blog yang loadingnya serba lelet, sehingga kebanyakan blogger saat menunggu loading selesai, mereka bosan, dan bahkan ada pula yang mengklik close karena blog yang dikunjungi tidak kunjung terbuka. Hal ini pastinya akan sangat merugikan pemilik blog yang berat blog nya besar sekali. Nah ada beberapa cara untuk meminimalisir size dari blog dengan meremove Gadget yang tidak berguna, Javascript, Jquery, dsb. Ada juga cara lain dengan mengkonversi HTML, image, CSS dan anda bisa mengecheck rating anda dengan Page Insight seperti yang sudah saya jelaskan di sini .



Nah sekarang pindah ke topik sebelumnya, kita akan mencoba mengukur blog kita? Blog yang standard atau bisa dikatakan tidak LOLA, maksimal harus memiliki ukuran 100KB [ Menurut saya ] . Karena jika berat blog anda lebih dari itu, maka bisa dikatakan blog anda termasuk golongan Siput.
Kita akan mencoba mengukur blog kita secara online menggunakan webtool yang disebut iWEBTOOL.
iWEBTOOL akan memberikan data berat blog, rata rata loading persecond jika kita ingin mengetes blog kita disitu.
Nah bagi yang pengen langsung menuju kesitu, silahkan klik disini

Untuk yang ingin tahu berapa ukuran blog saya, silahkan lihat gambar dibawah ini :



Sekian dulu tentang artikel ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.